Salah satu resolusi saya tahun
ini adalah untuk memperluas genre bacaan, tidak hanya terkungkung di salah satu
genre yang saya senangi, melainkan keluar dari zona nyaman untuk mendapat
pengetahuan yang luas. Salah satu kalimat dalam buku “Beginilah Shalat Nabi –
Jangan Asal shalat!” tulisan Syaikh Mutawalli Al-Sya’rawi sangat menampar saya.
Kurang lebih kalimatnya begini: “Bagaimana mereka bisa menikmati membaca Al-Qur’an,
dengan hanya sekedar membaca?”. Pada paraghraf tersebut dijelaskan bahwa banyak
sahabat muslim yang menangis dalam shalatnya karena mengetahui dan memahami
arti dari bacaan yang mereka rapalkan. Dan disitulah kenikmatan shalat dan
membaca Al-Qur’an. Saat membaca paraghraf tersebut saya refleks merenung. Saya sering
melihat dan mendengar orang menengis keltika membaca ayat suci Al-Qur’an, namun
saya sendiri belum mengalaminya. Beberpa waktu lalu saya merampungkan membaca
Al-Qur’an untuk ke-enam kalinya dan saat itu berniat untuk membaca yang
ke-tujuh kalinya dengan memahami terjemahannya. Namun niat tersebut belum juga
terlaksana. Saya berterima kasih dengan sentilan kalimat tersebut, sekarang
saya sudah mulai berusaha memahami Al-Qur’an dan menemukan gaya mengaji
(meng-kaji) yang lebih baik.
Dulu setelah membaca satu lembar
Al-Qur’an saya sudah lelah. Sedangkan membaca novel dan buku lain saya bisa
membaca 50 lembar sehari atau menyelesaikan satu buku perminggu. Hal itu sempat
mengganggu pikiran saya. Saya belum menemukan ketertarikan dan rasa ingin tahu
yang menggebu gebu saat membaca Al-Qur’an, berbeda saat membaca novel yang
sangat membuat penasaran. Ketika membaca Al-Qur’ann saya hanya sekedar membaca
dan mungkin saat itu pikiran-pikiran saya tetap melayang-layang dengan urusan
dunia. Apa yang salah? Ya, karena saya tidak mengetahui isi dan maksud Al-Qur’an.
Setelah menemukan model mengaji
yang baru, sekarang saya sangat menikmati membacanya melebihi ketika membaca
novel. Sekarang saya bisa membaca Al-Qur’an satu juz per hari tanpa rasa lelah.
Ya, caranya memang dengan mengetaui arti dari ayat tersebut. Sekarang cara saya
mengaji dengan membaca satu ayat, kemudian artinya, dan begitu seterusnya. Begitu
banyak kisah kisah islam yang sering saya dengar melalui ceramah dan sekarang
saya menemukan asal kisah tersebut langsung dari sumbernya. Saya menyesal
kenapa tidak dari dulu mempelajari Al-Qur’an dengan cara seperti ini. Saya merasa
sangat terlambat padahal dia dekat. Al-Qur’an selalu saya baca tiap hari namun
baru kali ini benar-benar menyentuh hati saya. Mengapa saya melewatkan banyak
waktu untuk dapat menikmati membaca sumber dari segala ilmu.
Semoga dengan membaca tulisan ini, mengetuk hati anda
untuk meraih kenikmatan membaca Al-Qur’an yang sebenarnya. J
0 komentar:
Posting Komentar