Sabtu, 06 April 2019

7. Kenikmatan Membaca Al-Qur'an yang Sebenarnya

Salah satu resolusi saya tahun ini adalah untuk memperluas genre bacaan, tidak hanya terkungkung di salah satu genre yang saya senangi, melainkan keluar dari zona nyaman untuk mendapat pengetahuan yang luas. Salah satu kalimat dalam buku “Beginilah Shalat Nabi – Jangan Asal shalat!” tulisan Syaikh Mutawalli Al-Sya’rawi sangat menampar saya. Kurang lebih kalimatnya begini: “Bagaimana mereka bisa menikmati membaca Al-Qur’an, dengan hanya sekedar membaca?”. Pada paraghraf tersebut dijelaskan bahwa banyak sahabat muslim yang menangis dalam shalatnya karena mengetahui dan memahami arti dari bacaan yang mereka rapalkan. Dan disitulah kenikmatan shalat dan membaca Al-Qur’an. Saat membaca paraghraf tersebut saya refleks merenung. Saya sering melihat dan mendengar orang menengis keltika membaca ayat suci Al-Qur’an, namun saya sendiri belum mengalaminya. Beberpa waktu lalu saya merampungkan membaca Al-Qur’an untuk ke-enam kalinya dan saat itu berniat untuk membaca yang ke-tujuh kalinya dengan memahami terjemahannya. Namun niat tersebut belum juga terlaksana. Saya berterima kasih dengan sentilan kalimat tersebut, sekarang saya sudah mulai berusaha memahami Al-Qur’an dan menemukan gaya mengaji (meng-kaji) yang lebih baik.
Dulu setelah membaca satu lembar Al-Qur’an saya sudah lelah. Sedangkan membaca novel dan buku lain saya bisa membaca 50 lembar sehari atau menyelesaikan satu buku perminggu. Hal itu sempat mengganggu pikiran saya. Saya belum menemukan ketertarikan dan rasa ingin tahu yang menggebu gebu saat membaca Al-Qur’an, berbeda saat membaca novel yang sangat membuat penasaran. Ketika membaca Al-Qur’ann saya hanya sekedar membaca dan mungkin saat itu pikiran-pikiran saya tetap melayang-layang dengan urusan dunia. Apa yang salah? Ya, karena saya tidak mengetahui isi dan maksud Al-Qur’an.
Setelah menemukan model mengaji yang baru, sekarang saya sangat menikmati membacanya melebihi ketika membaca novel. Sekarang saya bisa membaca Al-Qur’an satu juz per hari tanpa rasa lelah. Ya, caranya memang dengan mengetaui arti dari ayat tersebut. Sekarang cara saya mengaji dengan membaca satu ayat, kemudian artinya, dan begitu seterusnya. Begitu banyak kisah kisah islam yang sering saya dengar melalui ceramah dan sekarang saya menemukan asal kisah tersebut langsung dari sumbernya. Saya menyesal kenapa tidak dari dulu mempelajari Al-Qur’an dengan cara seperti ini. Saya merasa sangat terlambat padahal dia dekat. Al-Qur’an selalu saya baca tiap hari namun baru kali ini benar-benar menyentuh hati saya. Mengapa saya melewatkan banyak waktu untuk dapat menikmati membaca sumber dari segala ilmu.
Semoga dengan membaca tulisan ini, mengetuk hati anda untuk meraih kenikmatan membaca Al-Qur’an yang sebenarnya. J
Share:

0 komentar:

Posting Komentar