Jumat, 25 Januari 2019

3. Kekuatan "terbiasa"


Hari ini mau bercerita mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada diriku tanpa sadar ketika ditanya hanya bisa menjawab dengan “udah terbiasa kayak gini”. Pernah seorang teman bertanya “ yu kamu emang selalu pake rok trus pake kaos kaki ya?” saat itu kami memang belum genap sebulan berteman. Kami berdua mulai berteman ketika menjadi maba magister akuntansi. Saya hanya bisa menjawab, “iya nih, udah kebiasaan kalo ke kampus pake rok. Dulu s1 juga selalu pake rok, trus kalo gak pake kaos kaki rasanya aneh aja” jawabku sambil tertawa.
Pertanyaan itu selalu terbayang bayang akhirnya. Iya yah, sekarang udah gak nyaman ke kampus pake celana jeans. Walaupun saat itu kalo ngemall masih sering pake jeans. Setelah ditarik kebelakang, saya juga bisa berkerudung alasannya karena terbiasa. Awalnya memang terpaksa karena masuk sekolah menengah pertama yang mengharuskan siswinya berkerudung. Saya yang tidak tahu memakai kerudung segi empat benar-benar dibuat kaget. Setiap pagi jilbab tidak karuan dan merasa tidak nyaman memakainya. Namun semakin lama saya semakin terbiasa memakai jilbab di sekolah. Pelan pelan saya sudah mahir memakai sendiri jilbab segi empat tersebut. saat masa masa itu, selain di sekolah saya masih tidak memakai jilbab. Namun lama kelamaan sudah merasa aneh apabila ke rumah teman atau nge mall tanpa memakai jilbab. rasanya ada yang kurang, tidak nyaman, bahkan saya merasa kedinginan terutama dibagian kepala. Intinya tidak nyaman. Setelah itu saya  mulai dengan sukarela menggunakan jilbab kemana pun. Rasa terbiasa dan tidak nyaman itu pun terus belanjut bahkan ketika ada seorang teman laki-laki datang bertamu. Cerita serupa juga terjadi dengan “rok” dan “kaus kaki”. Rasanya tuh aneh dantidak nyaman. Bahkan sekarang saya tidak memakai celana jeans lagi. Apabila memang ingin memakai celana, saya memakai celana kulot. Pelan pelan juga saya membiasakan diri menggunakan gamis dan menunggu mencapai titik nyaman dan pelan-pelan akan melepas kulot juga.
Saya percaya dengan kekuatan “terbiasa”. Mungkin saya tidak bisa berubah drastis dan meninggalkan kulot dalam sehari, namun saya berusaha pelan pelan. Karna walaupun pelan-pelan saya telah melihat begitu banyak perubahan yang terjadi (dalam konteks penampilan saya). Saya juga menyarankan kepada teman-teman yang belum berjilbab untuk mulai mengenal jilbab, memakai jilbab ketika ke kampus, lalu berlanjut untuk berjilbab seterusnya. Mari memperbaik diri untuk menjadi muslimah yang seutuhnya, dimulai dari niat. Saya pun begitu, masih berada dalam proses untuk terus dan terus memperbaik diri.
Oh iya, ingat tidak dengan salah satu iklan pasta gigi yang menantang anak kecil untuk menggosok gigi pada malam hari selama 21 hari. Sebenarnya tantangan itu untuk membuat kita terbiasa, karna sebuah penelitian menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan berturut turut selama minimal 21 akan menjadi kebiasaan. Bagaimana kalo kita sekarang menantang diri kita sendiri untuk suatu perubahan?

Share:

Kamis, 24 Januari 2019

2. Cerita Diet Plastik (#lessplastic)


Mungkin teman-teman yang mengikuti saya di sosial media sering melihat saya memosting tautan mengenai larangan penggunaan plastik sekali pakai dan anjuran untuk mengurangi penggunaan plastik.  Isu plastik sekali pakai yang paling terkenal adalah mengenai sedotan plastik dan kantong plastik. Awal mula saya aware mengenai isu plastik ini sebenarnya bukan karena kampanye-kampanye di-media-sosial yang makin sering digalakkan. Namun jauh sebelum ini, bahkan jauh sebelum saya menyadarinya.
Awal mulanya seperti ini; dari kecil saya melihat orang tua saya, khusunya mama saya, yang tidak gampang membuang barang (atau bisa disebut tidak tega-an untuk membuang sesuatu). Mama saya selalu berusaha me-recycle-reuse atau menggunakan semaksimal mungkin barang tersebut sebelum dibuang. Misalnya botol-botol air mineral kemasan yang berakhir menjadi pot bunga, celengan, dudukan alat tulis, tempat penyimpanan sabun cuci, atau sekedar menjadi wadah es batu. Hampir semua yang masih bisa digunakan selalu di-recycle/reuse tanpa langsung membuang barang tersebut.  Selain botol dan kantong plastik, beragam barang-barang plastik yang masih menumpuk. Seperti alat makan plastik, wadah bekas salad buah, atau wadah buah-buahan. Walaupun mama saya gemar me-recycle barang-barang, namun hal tersebut tidak berbanding lurus dengan barang plastik yang masuk ke rumah.
Kesadaran saya dengan limbah plastik bertambah besar ketika saya pindah untuk hidup sendiri. Tiap hari saya membeli makan diluar, minimal tigal kali sehari, dan membuat  begitu banyak sampah yang menumpuk. Terutama kantong plastik, wadah jus, atau plastik/sterofoam wadah makanan. Saya juga mulai mengikuti kebiasaan ibu saya dengan sebisa mungkin merecycle barang yang masih bisa terpakai karena tanpa sadar saya juga menjadi orang yang tidak tega-an langsung membuang sesuatu, apalagi saya tahu barang tersebut masih bisa digunakan untuk hal lain. Namun kendalanya lagi-lagi sama, barang yang di-recycle/reuse tidak berbanding lurus dengan plastik yang saya bawa pulang. Sampai sekarang barang yang paling banyak bertumpuk dikosan saya adalah kantong plastik, botol air mineral, dan alat makan plastik. Sebenarnya saya sudah membawa botol air mineral untuk menghemat penggunaan plastik. Namun, beberapa situasi membuat saya harus membeli air mineral kemasar besar ketika air galon dikosan habis dan belum sempat untuk mengisi ulang.
Setelah saya sadar bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan, bahwa perubahan harus saya mulai dari diri saya sendiri, maka saya mulai melakukan perubahan pada sikap saya dan sebisa mungkin mengurangi penggunaan plastik, seperti membawa botol air sendiri, membawa kantong belanjaan sendiri, menolak penggunaan kantong palstik saat berbelanja, dan menolak alat makan plastik ketika membeli makanan untuk di take-out. Untungnya makin kesini semakin banyak kampanye pengurangan penggunaan plastik dimedia sosial. Saya semakin tahu apa maksud dan tujuan dilarangnya penggunaan plastik untuk tujuan lingkungan bumi keseluruhan. Bagaimana plastik dapat membahayakan hewan di laut, dan bagaimana sampah plastik yang menumpuk dibumi ini hingga jutaan bahkan ratusan tahun.
Semakin saya tahu, semakin luas juga cakupan diet plastik yang saya lakukan. Pada awalnya hanya botol dan kantong plastik, namun sekarang saya sudah mulai tidak mengguanakan sedotan plastik dan lebih aware pada kemasan-kemasan plastik pada barang konsumsi sehari-hari (misalnya tidak membeli barang dengan kemasan sachet atau lebih memilih membeli barang dengan kemasan yang paling besar sehingga mengurangi penggunaan plastik). Ternyata banyak sekali yang perlu dibenahi dari pola hidup manusia. Dan hal tersebut harus dilakukan bersama, dimulai dari diri sendiri.
Sampah plastik yang berakibat rusaknya bumi dan terancamnya biota laut mencerminkan kita sebagai manusia tidak menjaga makhluk ciptaan allah yang lain. Secara tidak sadar kita menjadi pembunuh dan menabung dosa tiap harinya. Banyak ayat dalam a-lquran yang menjelaskan bahwa manusia tidak boleh mnyebabkan kerusakan bada bumi. Mengenai manusia sebagai khalifah dibumi yang harus menjaga bumi dan memberikan rahmat pada sesama makhluk Allah.
Jadi insya Allah dengan melakukan diet plastik, kita sebagai manusia juga turut mengamalkan isi Al-Quran dan insya Allah mendapatkan pahala.
Share:

Jumat, 18 Januari 2019

1. Siapa Saya? (2019)


Lagi-lagi saya menulis tentang saya. Padahal tidak ada yang menarik dari seorang anak rumahan yang lebih suka menghabiskan waktu luang di rumah. Sesekali jalan bersama teman namun hanya yang saya anggap teman dekat, karnea saya tipe orang yang merasa lelah jika bersama dengan orang yang sekedar teman. Teman dekat disini dalam artian teman yang sudah lama kenal dan sudah mengenal diri saya tanpa perlu saya jelaskan. Pernah sekali saya hang out atau sekedar berjalan bersama dengan seorang teman. Kami baru berkenalan dan saya merasa seperti diwawancarai, ditanyai macam-macam dan ini-itu. Saya merasa lelah harus menjelaskan siapa saya. Toh kita pelan pelan akan saling mengenal. Alasan itu juga yang membuat saya kurang senang berkenalan dengan seseorang yang saya tahu akan ketemu disini saja dan sebatas saat itu saja. Misalnya berkenalan dengan orang yang duduk disebelah saat dipesawat, di ruang tunggu bandara, atau di kereta. Kita bisa berkenalan tapi tidak perlu menanyakan macam-macam. Mungkin terdengar aneh bagi kalian yang bukan tipe orang seperti saya, tapi percayalah itu melelahkan.
Sekarang saya berada di malang, dengan status mahasiswa semester terakhir yang harusnya ujian tesis paling lambat akhir semester ini. Namun di luar rencanaku dari awal, saya alhamdulillah diterima sebagai cpns sekjen kemendikbud. Hal tersebuat membuat saya mengambil cuti untuk semester ini. Dengan harap harap cemas nanti bisa menyelesaikan pendidikan s2 ini. Mungkin ini rencana tuhan. Semua ada hikmahnya. Sejujurnya semenjak semester kemarin seharusnya saya idealnya sudah melalui ujian komisi dan ujian proposal. Namun apa ada saya mengalami kesulitan dengan pembimbing pertama. Perasaan yang belum pernah saya rasakan saat menulis skripsi. Dikarenakan kesulitan yang saya rasakan tersebut berdampak pada keinginan saya dan saya mendapati diri saya menghindari untuk bimbingan. Saya sedih dan kesal pada diri saya sendiri. Namun yang terjadi tetap saja saya terus menunda nunda menulis tesis. Saya harus merubah pola pikir saya, saya harus menikmati semua proses dalam menulis tesis, dan saya harus bisa melihat dari sisi positif semua bumbu bumbu drama bimbingan. Hahahahah mari menertawakan nyali saya yang gampang ciut. Makin tua kok gini.
Oke sudah 2019, seperti biasa pasi semua orang mau menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mari mencintai tesis!!!! Mari menjadi orang yang gampang berceloteh dengan orang baru! Mari menjadi orang yang konsisten dan produktif! Mari meyelesaikan semua yang sudah dimulai! Semangat Ayu!
Oh iya, saya belum berkenalan. Nama saya Ayu. Selengkapnya bisa dibaca pada tulisan sebelum-sebelumnya, mungkin pada tulisan 2 tahun lalu hahahaha BYE!!!


Share: