Beberapa hari
lalu, saya menelpon kakek-nenek saya yang ada di Makassar (sedangkan saya di
Malang) setelah lebih tiga bulan lamanya.
Saya ingat terakhir kali menelpon beliau berdua pada tanggal 31 Desember 2018
ketika memberitahukan kabar gembira bahwa saya lulus tahap akhir CPNS. Kakek dan
nenek saya sekarang tinggal berdua dan berdomisili di kota Makassar, namun
mereka lebih sering dan senang menghabiskan waktu di Bone yang jaraknya 3-4 jam
dari makassar. Tidak seperti di Makassar, di Bone kakek-nenek saya merasa lebih
produktif karena ada kebun yang harus diurus dan dipelihara. Saat saya
menelpon, kakek saya sedang berada di kebun kelapa dan nenek saya sedang di
rumah. Kebun langsat dan rambutan pun sedang panen, meraka sedang
sibuk-sibuknya dan sudah lebih sebulan menetap di rumah Bone. Padahal biasanya
mereka pulang-balik setiap dua minggu.
Hal yang saya
sedihkan adalah tidak ada yang menemani mereka (walaupun mereka merasa tidak
apa-apa), apalagi saat saya menelpon nenek yang di rumah, beliau menceritakan
bahwa disana sedang hujan deras beserta guntur yang keras. Beliau merasa takut
sendirian di rumah, sedangkan kakek masih berada di kebun kelapa (juga
sendirian). Kemudian beliau juga menyayangkan hasil kebun yang melimpah namum
kami anak-cucunya jauh tidak bisa menikmati hasil tersebut. sebenarnya
kakek-nenek saya berkebun hanya sebagai hobi dan untuk mengisi waktu, bukan
untuk dijual. Jadi biasanya hasil panen kebun akan di bawa ke makassar dan
dibagi-bagikan. Dibagi di kampung pun tidak bisa karena semua orang punya
kebun, dan ketika saya mengusulkan untuk dijual, beliau mengatakan bahwa tidakk
ada yang bisa membantu menjual dan repot.
Sebenarnya saya
menulis ini karena saya merasa sedih pada diri saya sendiri. Dulu waktu saya
kecil, kakek-nenek saya yang menjaga saya di rumah. Papa saya di yogyakarta,
sedangkan mama saya bekerja kantoran. Jujur saja saya merasa sangat merasa
bersalah tidak bisa menemani mereka. Saat sekolah menengah pertama saya dan
keluarga pindah ke Palu dan pulang ke Makassar setiap lebaran. Kakek-nenek saya
selalu mengajak saya untuk melanjutkan sekolah di makassar agar bisa menemani
mereka, namun saat mendaftar sekolah menengat atas dan kuliah saya tidak
diterima. Kakek-nenek juga menyayangkan saya yang lanjut kuliat di Malang, dan
sekarang akan bekerja di Jakarta. Niat saya untuk menemani mereka tinggal di
makassar pun semakin jauh. Setelah merenung seperti ini saya merasa sedih. Saya
tidak bisa menemani dan membalas mereka. Setiap kali mengingat ini saya selalu
sedih. Mereka menjaga dan membesarkan saya (saya tinggal di rumah kakek-nenek
sampait kelas 5 sd) namun ketika saya sudah dewasa saya malah tidak menemani
mereka.
Semoga kakek-nenek
(dan juga papa-mama) selalu dalm lindungan Allah, dijauhkan dari orang-orang
yang beniat jahat, dan selalu dikelilingi orang-orang baik serta tulus.