Rabu, 17 April 2019

8. Teruntuk Kakek dan Nenek


Beberapa hari lalu, saya menelpon kakek-nenek saya yang ada di Makassar (sedangkan saya di Malang) setelah lebih  tiga bulan lamanya. Saya ingat terakhir kali menelpon beliau berdua pada tanggal 31 Desember 2018 ketika memberitahukan kabar gembira bahwa saya lulus tahap akhir CPNS. Kakek dan nenek saya sekarang tinggal berdua dan berdomisili di kota Makassar, namun mereka lebih sering dan senang menghabiskan waktu di Bone yang jaraknya 3-4 jam dari makassar. Tidak seperti di Makassar, di Bone kakek-nenek saya merasa lebih produktif karena ada kebun yang harus diurus dan dipelihara. Saat saya menelpon, kakek saya sedang berada di kebun kelapa dan nenek saya sedang di rumah. Kebun langsat dan rambutan pun sedang panen, meraka sedang sibuk-sibuknya dan sudah lebih sebulan menetap di rumah Bone. Padahal biasanya mereka pulang-balik setiap dua minggu.
Hal yang saya sedihkan adalah tidak ada yang menemani mereka (walaupun mereka merasa tidak apa-apa), apalagi saat saya menelpon nenek yang di rumah, beliau menceritakan bahwa disana sedang hujan deras beserta guntur yang keras. Beliau merasa takut sendirian di rumah, sedangkan kakek masih berada di kebun kelapa (juga sendirian). Kemudian beliau juga menyayangkan hasil kebun yang melimpah namum kami anak-cucunya jauh tidak bisa menikmati hasil tersebut. sebenarnya kakek-nenek saya berkebun hanya sebagai hobi dan untuk mengisi waktu, bukan untuk dijual. Jadi biasanya hasil panen kebun akan di bawa ke makassar dan dibagi-bagikan. Dibagi di kampung pun tidak bisa karena semua orang punya kebun, dan ketika saya mengusulkan untuk dijual, beliau mengatakan bahwa tidakk ada yang bisa membantu menjual dan repot.
Sebenarnya saya menulis ini karena saya merasa sedih pada diri saya sendiri. Dulu waktu saya kecil, kakek-nenek saya yang menjaga saya di rumah. Papa saya di yogyakarta, sedangkan mama saya bekerja kantoran. Jujur saja saya merasa sangat merasa bersalah tidak bisa menemani mereka. Saat sekolah menengah pertama saya dan keluarga pindah ke Palu dan pulang ke Makassar setiap lebaran. Kakek-nenek saya selalu mengajak saya untuk melanjutkan sekolah di makassar agar bisa menemani mereka, namun saat mendaftar sekolah menengat atas dan kuliah saya tidak diterima. Kakek-nenek juga menyayangkan saya yang lanjut kuliat di Malang, dan sekarang akan bekerja di Jakarta. Niat saya untuk menemani mereka tinggal di makassar pun semakin jauh. Setelah merenung seperti ini saya merasa sedih. Saya tidak bisa menemani dan membalas mereka. Setiap kali mengingat ini saya selalu sedih. Mereka menjaga dan membesarkan saya (saya tinggal di rumah kakek-nenek sampait kelas 5 sd) namun ketika saya sudah dewasa saya malah tidak menemani mereka.
Semoga kakek-nenek (dan juga papa-mama) selalu dalm lindungan Allah, dijauhkan dari orang-orang yang beniat jahat, dan selalu dikelilingi orang-orang baik serta tulus.

Share:

Sabtu, 06 April 2019

7. Kenikmatan Membaca Al-Qur'an yang Sebenarnya

Salah satu resolusi saya tahun ini adalah untuk memperluas genre bacaan, tidak hanya terkungkung di salah satu genre yang saya senangi, melainkan keluar dari zona nyaman untuk mendapat pengetahuan yang luas. Salah satu kalimat dalam buku “Beginilah Shalat Nabi – Jangan Asal shalat!” tulisan Syaikh Mutawalli Al-Sya’rawi sangat menampar saya. Kurang lebih kalimatnya begini: “Bagaimana mereka bisa menikmati membaca Al-Qur’an, dengan hanya sekedar membaca?”. Pada paraghraf tersebut dijelaskan bahwa banyak sahabat muslim yang menangis dalam shalatnya karena mengetahui dan memahami arti dari bacaan yang mereka rapalkan. Dan disitulah kenikmatan shalat dan membaca Al-Qur’an. Saat membaca paraghraf tersebut saya refleks merenung. Saya sering melihat dan mendengar orang menengis keltika membaca ayat suci Al-Qur’an, namun saya sendiri belum mengalaminya. Beberpa waktu lalu saya merampungkan membaca Al-Qur’an untuk ke-enam kalinya dan saat itu berniat untuk membaca yang ke-tujuh kalinya dengan memahami terjemahannya. Namun niat tersebut belum juga terlaksana. Saya berterima kasih dengan sentilan kalimat tersebut, sekarang saya sudah mulai berusaha memahami Al-Qur’an dan menemukan gaya mengaji (meng-kaji) yang lebih baik.
Dulu setelah membaca satu lembar Al-Qur’an saya sudah lelah. Sedangkan membaca novel dan buku lain saya bisa membaca 50 lembar sehari atau menyelesaikan satu buku perminggu. Hal itu sempat mengganggu pikiran saya. Saya belum menemukan ketertarikan dan rasa ingin tahu yang menggebu gebu saat membaca Al-Qur’an, berbeda saat membaca novel yang sangat membuat penasaran. Ketika membaca Al-Qur’ann saya hanya sekedar membaca dan mungkin saat itu pikiran-pikiran saya tetap melayang-layang dengan urusan dunia. Apa yang salah? Ya, karena saya tidak mengetahui isi dan maksud Al-Qur’an.
Setelah menemukan model mengaji yang baru, sekarang saya sangat menikmati membacanya melebihi ketika membaca novel. Sekarang saya bisa membaca Al-Qur’an satu juz per hari tanpa rasa lelah. Ya, caranya memang dengan mengetaui arti dari ayat tersebut. Sekarang cara saya mengaji dengan membaca satu ayat, kemudian artinya, dan begitu seterusnya. Begitu banyak kisah kisah islam yang sering saya dengar melalui ceramah dan sekarang saya menemukan asal kisah tersebut langsung dari sumbernya. Saya menyesal kenapa tidak dari dulu mempelajari Al-Qur’an dengan cara seperti ini. Saya merasa sangat terlambat padahal dia dekat. Al-Qur’an selalu saya baca tiap hari namun baru kali ini benar-benar menyentuh hati saya. Mengapa saya melewatkan banyak waktu untuk dapat menikmati membaca sumber dari segala ilmu.
Semoga dengan membaca tulisan ini, mengetuk hati anda untuk meraih kenikmatan membaca Al-Qur’an yang sebenarnya. J
Share:

Kamis, 14 Maret 2019

6. Buku Keliling


Konsep buku keliling terlintas dipikiran saya ketika membaca buku bagus, yang menurut saya semua orang seharusnya membaca buku ini juga. Selain alasan tersebut, juga dikarenakan buku buku yang menumpuk di kamar saya. Sejak kecil saya sudah hobi membaca dan sering membeli buku. Namun setelah sekali dibaca, buku buku tersebut akan terdiam di rak buku. Saat SMP dan SMA, saya sering menyumbangkan buku (saat itu lebih sering baca novel) ke perpustakaan sekolah. Kemudian setelah masuk universitas, perpustakaan kampus tidak menerima buku buku fiktif dan saat itu saya tidak tau mau menyumbang buku kemana. Saya tipe orang yang membaca buku satu kali dan tidak membacany untuk kedua kalinya. Saya tidak menikmati membaca buku khususnya novel yang sudah pernah saya baca. Jadi ketika saya membeli novel, setelah saya menyelesaikan membaca, buku itu hanya terpajang dan tidak dibaca lagi. Setelah mengenal gaya hidup minimalis, saya menyesalkan begitu banyak buku yang menumpuk dan tidak pernah terbaca lagi. Padahal buku buku tersebut adalah buku buku bagus yang orang lain juga perlu membacanya. Saya telah sering merekomendasikan buku buku yang saya baca kemada teman dekat. Namun hanya itu itu saja, setelah dibaca oleh beberapa teman buku itu akan kembali lagi dan hanya terpajang berdebu di atas buku.
Beberapa minggu terakhir genre bacaan saya agak banyak berubah. Sekarang saya lebih menikmati buku tentang kehidupan dan agama. Setiap kali saya selesai membaca buku, begitu banyak pelajaran yang bisa saya ambil dan saya sangat merasakan manfaat dari buku yang saya baca tersebut. perasaan saya semakin menggebu, saya ingin lebih banyak orang orang lain yang juga membaca buku tersebut. seketika saya mendapatkan ide mengenai buku keliling yang terinspirasi dari konsep perpustakaan keliling. Namun berbeda dengan perpustakaan keliling, buku keliling ini berjalan sendiri dari orang yang membacanya ke orang yang akan membacanya. Misalnya seperti ini, saya membaca buku a, lalu setelah membacanya saya memberikan buku itu kemada teman saya, setelah itu buku tsb akan diberikan lagi kepada orang lain dan begitu seterusnya. Dibagian depan buku keliling tersebut diberikan penjelasan mengenai konsep buku keliling. Buku tersebut tidak boleh berhenti pada orang yang membacanya. Setelah membaca 7-10 hari, buku tersebut harus diberikan kepada orang lain yang harus membacanya, dan begitu seterusnya. Tidak apa buku tersebut tidak kembali kepada pemiliknya, asalkan beuku tersebut berguna dan terus dibaca oleh banyak orang. Hal tsb lebih berguna dibandingkan buku itu hanya terdiam di sudut meja belajar.
Semoga buku keliling ini secepatnya bisa berkeliling.

Share:

Jumat, 01 Maret 2019

5. Selera Tontonan dan Bacaan yang Berubah


Setelah memasuki tahun 2019, saya bertekad untuk banyak membaca dan memperluas genre bacaan. Saya menargetkan untuk membaca satu buku tiap satu pekan diluar dari bacaan kuliah. Setelah berjalan 9 pekan, saya merasakan perubahan terhadap selera bacaan saya. Saya kurang menikmati lagi novel romance dengan alur cerita cinta remaja yang hanya berfokus pada “cinta” seakan cinta adalah hal yang paling penting. Dipekan pertama saya membaca novel konspirasi alam semesta. Novel ini salah satu novel best seller dari penulis terkemuka. Namun saat membaca novel tersebut saya merasa tidak tertarik dan banyak hal hal yang digambarkan dalam novel tersebut tidak sesuai dengan pemahaman saya.
Memasuki tahun baru dan umur yang semakin tua, saya juga semakin ingin mendekatkan diri kepada Allah SWt, saya memperluas bahan bacaan saya. Pelan tapi pasti untuk belajar agama. Oleh karena itu banyak konsep konsep kehidupan Islam yang bertentangan dengan isi novel novel romance. Mungkin hal itu yang membuat sselera saya berubah. Semakin saya tau bahwa ini salah itu salah semakin banyak pula hal hal yang saya tidak setuju didalam novel romance remaja saat ini.
Begitupun saat menonton film Dilan 1991 kemarin. Saya sangat tidak meninkmatinya. Terlalu banyak hal-hal yang salah. Ketika anak 13 tahun keatas menonton film tersebut, mereka akan mencontoh hal yang salah. Begitu banyak hal yang saya sayangkan. Misalnya orang tua dan dilan yang digambarkan seorang yang agamis – ada scene saat ibu dilan selesai shalat memakai mukenah- tapi dengan gamblang menyetujui anaknya berpacaran. Kemudia mengenai sepasan sejoli yang pacaran di rumah malam-malam, atau mengenai gombalan-gombalan yang membuat seisi studio bioskop tersenyum (walaupun jujur saja, setiap ada kalimat gombalan yang terlempar, saya merasa ingin menuntup telinga). Saya selalu memikirkan adik-adik yang ilmu agamanya belum banyak, malah terbawa arus dan mengikuti dilan-milea. Sungguh disayangkan.
Tapi apabila dilihat dari kacamata positifnya, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil setelah menonton film dilan 1991:
1.       Untuk para orang tua, jangan membolehkan anaknya berpacaran. Sudah liat bagaimana milea seperti kehilangan harapan untuk hidup saat ditinggal dilan?
2.       Untuk adik-adik, janganlah kalian berpacaran, jalan masih panjang. Masih banyak orang-orang yang akan kalian temui sata kuliah atau kerja nanti. Dan  jodoh sudah ada yang atur. Dia akan tiba disaat yang tepat.
3.       Seharusnya berdoa untuk dijauhkan dari sosok seperti dilan: tukang gombal, keras kepala, tukang tawuran, membantah orang tua, ajak hujan-hujanan naik motor tanpa peduli kamu mungkin akan sakit.
4.       Semoga dijauhkan dari situasi seperti milea. Sudah memberikan hati sepenuhnya, sudah kenal keluarga dilan, sudah diambil ciuman pertamanya, eh malah ditinggal. Dan yang pasti si mile sudah dapat dosa dan menabung dosa buat ayahnya karena kelakukannya.
Mungkin kalian banyak yang berpendapat lain mengenai film itu. Hal tersebut wajar karena kita semua memiliki pemikiran  yang berbeda.

Share:

Senin, 18 Februari 2019

4. Gaya Hidup Minimalism


Beberapa bulan terakhir dunia per-youtube-an indonesia sedang digandrungi oleh para artis-artis yang mulai mencari penontonnya sendiri melalui situs tersebut dan saya sering melihat artis-artis tersebut memperlihatkan wardrobe dan koleksi-koleksi mereka. Sering kali juga memperlihatkan artis berbelanja barang ini-itu tanpa pertimbangan berarti. Seringkali pemikiran saya timbul; emang barang-barang itu dipakai semua? Barang itu mau dikemanain coba? Barang-barang tersebut pasti hanya dipakai sekali dan selebihnya akan nongkrong di closet atau di tempat penyimpanan mereka.

Dengan membayangkan barang barang tersebut hanya menjadi pajangan tanpa dipergunakan dengan seharusnya, saya teringat dengan buku jus amma bergambar yang sering sy baca ketika kecil. Di buku itu sy ingat sekali ditampilkan seorang anak laki-laki yang mengoleksi banyaaaaaaaak sekali mobil-mobilan dan memajangnya. Koleksi mobil-mobil itu memenuhi semua lemari yang terdapat pada ruangan itu. Dalam surah tersebut dijelaskan bahwa semua barang akan bersaksi dan manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas barang yang ia miliki; digunakan untuk apa, dsb. Dalam surah tersebut dilarang untuk menumpuk harta dan lebih baik digunakan untuk membantu sesama muslim. ....dan itu bertolak belakang dengan kebiasaan mengoleksi dan membeli barang yang-belum-tentu dibutuhkan.

Setelah memiliki pemikiran-pemikiran liar mengenai ketidaksetujuan dengan gaya hidup seperti yang diperlihatkan arti-artis tersebut, saya mulai mendapati adanya gaya hidup minimalist. Gaya hidup ini adalah gaya hidup yang tidak memiliki banyak barang-barang, melainkan barang barang yang dibutuhkan. Kemudian ada juga gaya hidup marie kondo yang hanya menyimpan barang yang memberikan dan menyimpan kebahagian dalam hidup, selebihnya akan dibuanga tau didonasikan. Dua gaya hidup tersebut menurut saya sejalan dengan ajaran al-quran (walaupun 2 gaya hidup ini sepertinya muncul  tidak berakar dari ajaran alquran) yang tidak menumpuk barang dan memaksimalkan penggunaan barang yang ada. Hidup menjadi tidak boros dan uang yang diperoleh dapat digunakan lebih maksimal untuk kepentingan lain dan membantu sesama.

Share:

Jumat, 25 Januari 2019

3. Kekuatan "terbiasa"


Hari ini mau bercerita mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada diriku tanpa sadar ketika ditanya hanya bisa menjawab dengan “udah terbiasa kayak gini”. Pernah seorang teman bertanya “ yu kamu emang selalu pake rok trus pake kaos kaki ya?” saat itu kami memang belum genap sebulan berteman. Kami berdua mulai berteman ketika menjadi maba magister akuntansi. Saya hanya bisa menjawab, “iya nih, udah kebiasaan kalo ke kampus pake rok. Dulu s1 juga selalu pake rok, trus kalo gak pake kaos kaki rasanya aneh aja” jawabku sambil tertawa.
Pertanyaan itu selalu terbayang bayang akhirnya. Iya yah, sekarang udah gak nyaman ke kampus pake celana jeans. Walaupun saat itu kalo ngemall masih sering pake jeans. Setelah ditarik kebelakang, saya juga bisa berkerudung alasannya karena terbiasa. Awalnya memang terpaksa karena masuk sekolah menengah pertama yang mengharuskan siswinya berkerudung. Saya yang tidak tahu memakai kerudung segi empat benar-benar dibuat kaget. Setiap pagi jilbab tidak karuan dan merasa tidak nyaman memakainya. Namun semakin lama saya semakin terbiasa memakai jilbab di sekolah. Pelan pelan saya sudah mahir memakai sendiri jilbab segi empat tersebut. saat masa masa itu, selain di sekolah saya masih tidak memakai jilbab. Namun lama kelamaan sudah merasa aneh apabila ke rumah teman atau nge mall tanpa memakai jilbab. rasanya ada yang kurang, tidak nyaman, bahkan saya merasa kedinginan terutama dibagian kepala. Intinya tidak nyaman. Setelah itu saya  mulai dengan sukarela menggunakan jilbab kemana pun. Rasa terbiasa dan tidak nyaman itu pun terus belanjut bahkan ketika ada seorang teman laki-laki datang bertamu. Cerita serupa juga terjadi dengan “rok” dan “kaus kaki”. Rasanya tuh aneh dantidak nyaman. Bahkan sekarang saya tidak memakai celana jeans lagi. Apabila memang ingin memakai celana, saya memakai celana kulot. Pelan pelan juga saya membiasakan diri menggunakan gamis dan menunggu mencapai titik nyaman dan pelan-pelan akan melepas kulot juga.
Saya percaya dengan kekuatan “terbiasa”. Mungkin saya tidak bisa berubah drastis dan meninggalkan kulot dalam sehari, namun saya berusaha pelan pelan. Karna walaupun pelan-pelan saya telah melihat begitu banyak perubahan yang terjadi (dalam konteks penampilan saya). Saya juga menyarankan kepada teman-teman yang belum berjilbab untuk mulai mengenal jilbab, memakai jilbab ketika ke kampus, lalu berlanjut untuk berjilbab seterusnya. Mari memperbaik diri untuk menjadi muslimah yang seutuhnya, dimulai dari niat. Saya pun begitu, masih berada dalam proses untuk terus dan terus memperbaik diri.
Oh iya, ingat tidak dengan salah satu iklan pasta gigi yang menantang anak kecil untuk menggosok gigi pada malam hari selama 21 hari. Sebenarnya tantangan itu untuk membuat kita terbiasa, karna sebuah penelitian menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan berturut turut selama minimal 21 akan menjadi kebiasaan. Bagaimana kalo kita sekarang menantang diri kita sendiri untuk suatu perubahan?

Share:

Kamis, 24 Januari 2019

2. Cerita Diet Plastik (#lessplastic)


Mungkin teman-teman yang mengikuti saya di sosial media sering melihat saya memosting tautan mengenai larangan penggunaan plastik sekali pakai dan anjuran untuk mengurangi penggunaan plastik.  Isu plastik sekali pakai yang paling terkenal adalah mengenai sedotan plastik dan kantong plastik. Awal mula saya aware mengenai isu plastik ini sebenarnya bukan karena kampanye-kampanye di-media-sosial yang makin sering digalakkan. Namun jauh sebelum ini, bahkan jauh sebelum saya menyadarinya.
Awal mulanya seperti ini; dari kecil saya melihat orang tua saya, khusunya mama saya, yang tidak gampang membuang barang (atau bisa disebut tidak tega-an untuk membuang sesuatu). Mama saya selalu berusaha me-recycle-reuse atau menggunakan semaksimal mungkin barang tersebut sebelum dibuang. Misalnya botol-botol air mineral kemasan yang berakhir menjadi pot bunga, celengan, dudukan alat tulis, tempat penyimpanan sabun cuci, atau sekedar menjadi wadah es batu. Hampir semua yang masih bisa digunakan selalu di-recycle/reuse tanpa langsung membuang barang tersebut.  Selain botol dan kantong plastik, beragam barang-barang plastik yang masih menumpuk. Seperti alat makan plastik, wadah bekas salad buah, atau wadah buah-buahan. Walaupun mama saya gemar me-recycle barang-barang, namun hal tersebut tidak berbanding lurus dengan barang plastik yang masuk ke rumah.
Kesadaran saya dengan limbah plastik bertambah besar ketika saya pindah untuk hidup sendiri. Tiap hari saya membeli makan diluar, minimal tigal kali sehari, dan membuat  begitu banyak sampah yang menumpuk. Terutama kantong plastik, wadah jus, atau plastik/sterofoam wadah makanan. Saya juga mulai mengikuti kebiasaan ibu saya dengan sebisa mungkin merecycle barang yang masih bisa terpakai karena tanpa sadar saya juga menjadi orang yang tidak tega-an langsung membuang sesuatu, apalagi saya tahu barang tersebut masih bisa digunakan untuk hal lain. Namun kendalanya lagi-lagi sama, barang yang di-recycle/reuse tidak berbanding lurus dengan plastik yang saya bawa pulang. Sampai sekarang barang yang paling banyak bertumpuk dikosan saya adalah kantong plastik, botol air mineral, dan alat makan plastik. Sebenarnya saya sudah membawa botol air mineral untuk menghemat penggunaan plastik. Namun, beberapa situasi membuat saya harus membeli air mineral kemasar besar ketika air galon dikosan habis dan belum sempat untuk mengisi ulang.
Setelah saya sadar bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan, bahwa perubahan harus saya mulai dari diri saya sendiri, maka saya mulai melakukan perubahan pada sikap saya dan sebisa mungkin mengurangi penggunaan plastik, seperti membawa botol air sendiri, membawa kantong belanjaan sendiri, menolak penggunaan kantong palstik saat berbelanja, dan menolak alat makan plastik ketika membeli makanan untuk di take-out. Untungnya makin kesini semakin banyak kampanye pengurangan penggunaan plastik dimedia sosial. Saya semakin tahu apa maksud dan tujuan dilarangnya penggunaan plastik untuk tujuan lingkungan bumi keseluruhan. Bagaimana plastik dapat membahayakan hewan di laut, dan bagaimana sampah plastik yang menumpuk dibumi ini hingga jutaan bahkan ratusan tahun.
Semakin saya tahu, semakin luas juga cakupan diet plastik yang saya lakukan. Pada awalnya hanya botol dan kantong plastik, namun sekarang saya sudah mulai tidak mengguanakan sedotan plastik dan lebih aware pada kemasan-kemasan plastik pada barang konsumsi sehari-hari (misalnya tidak membeli barang dengan kemasan sachet atau lebih memilih membeli barang dengan kemasan yang paling besar sehingga mengurangi penggunaan plastik). Ternyata banyak sekali yang perlu dibenahi dari pola hidup manusia. Dan hal tersebut harus dilakukan bersama, dimulai dari diri sendiri.
Sampah plastik yang berakibat rusaknya bumi dan terancamnya biota laut mencerminkan kita sebagai manusia tidak menjaga makhluk ciptaan allah yang lain. Secara tidak sadar kita menjadi pembunuh dan menabung dosa tiap harinya. Banyak ayat dalam a-lquran yang menjelaskan bahwa manusia tidak boleh mnyebabkan kerusakan bada bumi. Mengenai manusia sebagai khalifah dibumi yang harus menjaga bumi dan memberikan rahmat pada sesama makhluk Allah.
Jadi insya Allah dengan melakukan diet plastik, kita sebagai manusia juga turut mengamalkan isi Al-Quran dan insya Allah mendapatkan pahala.
Share: