Mungkin teman-teman
yang mengikuti saya di sosial media sering melihat saya memosting tautan mengenai
larangan penggunaan plastik sekali pakai dan anjuran untuk mengurangi
penggunaan plastik. Isu plastik sekali
pakai yang paling terkenal adalah mengenai sedotan plastik dan kantong plastik.
Awal mula saya aware mengenai isu
plastik ini sebenarnya bukan karena kampanye-kampanye di-media-sosial yang
makin sering digalakkan. Namun jauh sebelum ini, bahkan jauh sebelum saya
menyadarinya.
Awal mulanya
seperti ini; dari kecil saya melihat orang tua saya, khusunya mama saya, yang
tidak gampang membuang barang (atau bisa disebut tidak tega-an untuk membuang
sesuatu). Mama saya selalu berusaha me-recycle-reuse
atau menggunakan semaksimal mungkin barang tersebut sebelum dibuang. Misalnya
botol-botol air mineral kemasan yang berakhir menjadi pot bunga, celengan,
dudukan alat tulis, tempat penyimpanan sabun cuci, atau sekedar menjadi wadah
es batu. Hampir semua yang masih bisa digunakan selalu di-recycle/reuse tanpa
langsung membuang barang tersebut.
Selain botol dan kantong plastik, beragam barang-barang plastik yang
masih menumpuk. Seperti alat makan plastik, wadah bekas salad buah, atau wadah
buah-buahan. Walaupun mama saya gemar me-recycle barang-barang, namun hal
tersebut tidak berbanding lurus dengan barang plastik yang masuk ke rumah.
Kesadaran saya
dengan limbah plastik bertambah besar ketika saya pindah untuk hidup sendiri.
Tiap hari saya membeli makan diluar, minimal tigal kali sehari, dan
membuat begitu banyak sampah yang
menumpuk. Terutama kantong plastik, wadah jus, atau plastik/sterofoam wadah
makanan. Saya juga mulai mengikuti kebiasaan ibu saya dengan sebisa mungkin
merecycle barang yang masih bisa terpakai karena tanpa sadar saya juga menjadi
orang yang tidak tega-an langsung membuang sesuatu, apalagi saya tahu barang
tersebut masih bisa digunakan untuk hal lain. Namun kendalanya lagi-lagi sama,
barang yang di-recycle/reuse tidak berbanding lurus dengan plastik yang saya
bawa pulang. Sampai sekarang barang yang paling banyak bertumpuk dikosan saya
adalah kantong plastik, botol air mineral, dan alat makan plastik. Sebenarnya
saya sudah membawa botol air mineral untuk menghemat penggunaan plastik. Namun,
beberapa situasi membuat saya harus membeli air mineral kemasar besar ketika
air galon dikosan habis dan belum sempat untuk mengisi ulang.
Setelah saya
sadar bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan, bahwa perubahan harus saya mulai dari
diri saya sendiri, maka saya mulai melakukan perubahan pada sikap saya dan
sebisa mungkin mengurangi penggunaan plastik, seperti membawa botol air
sendiri, membawa kantong belanjaan sendiri, menolak penggunaan kantong palstik
saat berbelanja, dan menolak alat makan plastik ketika membeli makanan untuk di
take-out. Untungnya makin kesini semakin banyak kampanye pengurangan penggunaan
plastik dimedia sosial. Saya semakin tahu apa maksud dan tujuan dilarangnya
penggunaan plastik untuk tujuan lingkungan bumi keseluruhan. Bagaimana plastik
dapat membahayakan hewan di laut, dan bagaimana sampah plastik yang menumpuk
dibumi ini hingga jutaan bahkan ratusan tahun.
Semakin saya
tahu, semakin luas juga cakupan diet plastik yang saya lakukan. Pada awalnya
hanya botol dan kantong plastik, namun sekarang saya sudah mulai tidak
mengguanakan sedotan plastik dan lebih aware pada kemasan-kemasan plastik pada
barang konsumsi sehari-hari (misalnya tidak membeli barang dengan kemasan
sachet atau lebih memilih membeli barang dengan kemasan yang paling besar
sehingga mengurangi penggunaan plastik). Ternyata banyak sekali yang perlu
dibenahi dari pola hidup manusia. Dan hal tersebut harus dilakukan bersama,
dimulai dari diri sendiri.
Sampah plastik
yang berakibat rusaknya bumi dan terancamnya biota laut mencerminkan kita
sebagai manusia tidak menjaga makhluk ciptaan allah yang lain. Secara tidak
sadar kita menjadi pembunuh dan menabung dosa tiap harinya. Banyak ayat dalam a-lquran
yang menjelaskan bahwa manusia tidak boleh mnyebabkan kerusakan bada bumi.
Mengenai manusia sebagai khalifah dibumi yang harus menjaga bumi dan memberikan
rahmat pada sesama makhluk Allah.
Jadi insya Allah
dengan melakukan diet plastik, kita sebagai manusia juga turut mengamalkan isi
Al-Quran dan insya Allah mendapatkan pahala.
0 komentar:
Posting Komentar