Kamis, 24 Januari 2019

2. Cerita Diet Plastik (#lessplastic)


Mungkin teman-teman yang mengikuti saya di sosial media sering melihat saya memosting tautan mengenai larangan penggunaan plastik sekali pakai dan anjuran untuk mengurangi penggunaan plastik.  Isu plastik sekali pakai yang paling terkenal adalah mengenai sedotan plastik dan kantong plastik. Awal mula saya aware mengenai isu plastik ini sebenarnya bukan karena kampanye-kampanye di-media-sosial yang makin sering digalakkan. Namun jauh sebelum ini, bahkan jauh sebelum saya menyadarinya.
Awal mulanya seperti ini; dari kecil saya melihat orang tua saya, khusunya mama saya, yang tidak gampang membuang barang (atau bisa disebut tidak tega-an untuk membuang sesuatu). Mama saya selalu berusaha me-recycle-reuse atau menggunakan semaksimal mungkin barang tersebut sebelum dibuang. Misalnya botol-botol air mineral kemasan yang berakhir menjadi pot bunga, celengan, dudukan alat tulis, tempat penyimpanan sabun cuci, atau sekedar menjadi wadah es batu. Hampir semua yang masih bisa digunakan selalu di-recycle/reuse tanpa langsung membuang barang tersebut.  Selain botol dan kantong plastik, beragam barang-barang plastik yang masih menumpuk. Seperti alat makan plastik, wadah bekas salad buah, atau wadah buah-buahan. Walaupun mama saya gemar me-recycle barang-barang, namun hal tersebut tidak berbanding lurus dengan barang plastik yang masuk ke rumah.
Kesadaran saya dengan limbah plastik bertambah besar ketika saya pindah untuk hidup sendiri. Tiap hari saya membeli makan diluar, minimal tigal kali sehari, dan membuat  begitu banyak sampah yang menumpuk. Terutama kantong plastik, wadah jus, atau plastik/sterofoam wadah makanan. Saya juga mulai mengikuti kebiasaan ibu saya dengan sebisa mungkin merecycle barang yang masih bisa terpakai karena tanpa sadar saya juga menjadi orang yang tidak tega-an langsung membuang sesuatu, apalagi saya tahu barang tersebut masih bisa digunakan untuk hal lain. Namun kendalanya lagi-lagi sama, barang yang di-recycle/reuse tidak berbanding lurus dengan plastik yang saya bawa pulang. Sampai sekarang barang yang paling banyak bertumpuk dikosan saya adalah kantong plastik, botol air mineral, dan alat makan plastik. Sebenarnya saya sudah membawa botol air mineral untuk menghemat penggunaan plastik. Namun, beberapa situasi membuat saya harus membeli air mineral kemasar besar ketika air galon dikosan habis dan belum sempat untuk mengisi ulang.
Setelah saya sadar bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan, bahwa perubahan harus saya mulai dari diri saya sendiri, maka saya mulai melakukan perubahan pada sikap saya dan sebisa mungkin mengurangi penggunaan plastik, seperti membawa botol air sendiri, membawa kantong belanjaan sendiri, menolak penggunaan kantong palstik saat berbelanja, dan menolak alat makan plastik ketika membeli makanan untuk di take-out. Untungnya makin kesini semakin banyak kampanye pengurangan penggunaan plastik dimedia sosial. Saya semakin tahu apa maksud dan tujuan dilarangnya penggunaan plastik untuk tujuan lingkungan bumi keseluruhan. Bagaimana plastik dapat membahayakan hewan di laut, dan bagaimana sampah plastik yang menumpuk dibumi ini hingga jutaan bahkan ratusan tahun.
Semakin saya tahu, semakin luas juga cakupan diet plastik yang saya lakukan. Pada awalnya hanya botol dan kantong plastik, namun sekarang saya sudah mulai tidak mengguanakan sedotan plastik dan lebih aware pada kemasan-kemasan plastik pada barang konsumsi sehari-hari (misalnya tidak membeli barang dengan kemasan sachet atau lebih memilih membeli barang dengan kemasan yang paling besar sehingga mengurangi penggunaan plastik). Ternyata banyak sekali yang perlu dibenahi dari pola hidup manusia. Dan hal tersebut harus dilakukan bersama, dimulai dari diri sendiri.
Sampah plastik yang berakibat rusaknya bumi dan terancamnya biota laut mencerminkan kita sebagai manusia tidak menjaga makhluk ciptaan allah yang lain. Secara tidak sadar kita menjadi pembunuh dan menabung dosa tiap harinya. Banyak ayat dalam a-lquran yang menjelaskan bahwa manusia tidak boleh mnyebabkan kerusakan bada bumi. Mengenai manusia sebagai khalifah dibumi yang harus menjaga bumi dan memberikan rahmat pada sesama makhluk Allah.
Jadi insya Allah dengan melakukan diet plastik, kita sebagai manusia juga turut mengamalkan isi Al-Quran dan insya Allah mendapatkan pahala.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar